Lemah



Seseorang pernah berkata padaku;
“jangan salahin aku ya, kalau aku sampe mukul, tapi kali ini aku akan mukul perasaan. Pasti sakit banget kan?”

Source: IDN Times

Iya, itu kelemahanku. Perasaan. Aku terdiam dan tidak menyangka. Sedih mendengar orang yang dekat denganku tetapi mengatakan hal yang tidak seharusnya ia katakan. Sehingga, sekarang aku menjaga jarak. Lebih tepatnya, aku menjaga sikap supaya aku tidak berlebihan kepadanya, walau cuma bercanda, agar dia tidak memukul perasaanku.

Iya, aku orang yang baperan. Lebih sering menggunakan hati daripada otak. Tetapi bukan berarti aku tidak punya otak. Logikaku juga sesekali bekerja, hana saja, orang-orang disekelilingku terlalu menjudge aku yang lebih sering menggunakan perasaan, sehingga rasanya aku tidak pantas jika berfikir menggunakan otak.

Aku yang selalu memendam perasaanku dan dinilai jaim lebih sering diabaikan dan dianggap tidak seru dalam berteman. Iya, karena mereka lebih mencari teman yang expresif dibandingkan aku yang kesusahan dalam mengungkapkan apa yang aku rasa. Terkadang sepi. Tapi gapapa, aku sudah terbiasa diasingkan dan hanya bergelut dengan perasaan-perasaanku.

Aku memang tidak pandai membuat mereka tertawa, tapi aku suka tertawa bersama mereka. Tapi maaf, aku tidak bisa menjadi expresif seperti yang mereka mau. Aku selalu berusaha menyeimbangkan sikapku seperti yang mereka mau, agar aku bisa tetap menjalin hubungan bersama mereka. Lagi-lagi aku lebih sering disalahkan.

Terkadang bingung. Katanya, aku harus jadi diriku sendiri. Tetapi, ketika aku menjadi diriku sendiri, ada yang bahkan memandangku jijik dengan berkata “jangan sok imut, Ra.” dan ketika aku menyembunyikan sifat asliku dan bersikap seperti yang mereka mau, mereka malah melabelku dengan sebutan bahwa aku “jaga image”. Jadi aku harus apa?

Aku rasa, orang-orang harus lebih lagi belajar bagaimana caranya menghargai dan menerima orang lain. Karena, kita tidak pernah tau siapa saja yang tersakiti karena perbuatan atau perkataan kita. Kita tidak pernah tau siapa saja yang tertekan mentalnya karena perbuatan atau perkataan kita. Karena kita tidak pernah tau jika suatu saat nanti ada seseorang yang mengakhiri hidupnya hanya karena kesalahan dari perbuatan atau perkataan kita. Semoga, kita semua lebih mengerti tentang kapasitas mentality orang-orang di sekeliling kita.

Comments

Popular posts from this blog

051020