Hujatan
“ketika seseorang mengekspose sebuah tulisan berupa
quotes/sajak, tidak berarti ia selalu galau-galauan, bisa jadi ia sedang
melatih bakatnya.”
Apa yang aku rasakan selama beberapa semester terakhir ini
adalah persis seperti yang digambarkan oleh quote di atas. Aku memang pribadi
yang baperan. Galau memang sudah menjadi temanku sehari-hari, tidak asing dengan
perasaan galau.
Tapi orang-orang di sekelilingku terlalu men-judge kepribadianku. Sehingga aku bingung bagaimana aku harus bersikap di depan mereka. Aku bingung bagaimana mereka bisa menerima aku yang tidak expresif yang malah sering bergelut dengan perasaanku sendiri. Sungguh aku sangat bingung.
Tapi orang-orang di sekelilingku terlalu men-judge kepribadianku. Sehingga aku bingung bagaimana aku harus bersikap di depan mereka. Aku bingung bagaimana mereka bisa menerima aku yang tidak expresif yang malah sering bergelut dengan perasaanku sendiri. Sungguh aku sangat bingung.
Seperti yang aku cerita di postingan sebelumnya, aku dihujat
ketika aku menjadi diriku sendiri, aku juga dipandang aneh ketika aku bersikap
seperti yang mereka mau. Berkali-kali aku berfikir, apa sebenarnya maunya mereka?
Berbicara tentang potensi, aku hampir tidak mengetahui
potensiku apa sebelum aku menyadari bahwa aku suka menulis. Berbakat? Aku rasa
belum terlalu ahli dalam menulis. Aku hanya menikmati ketika aku menuangkan perasaanku
dalam berbentuk tulisan. Aku pribadi introvert yang lebih suka berbicara
melalui huruf, bukan suara. Aku lebih banyak berdiam diri, tetapi otakku
berfikir mencari inspirasi untuk tulisanku dengan aku mengobservasi
sekelilingku. Aku yang tidak mempercayai
siapapun lagi untuk bercerita tentang masalah hidupku, tetapi merasa lega
ketika aku menceritakan masalahku melalui tulisan. Menjadi suatu terapi
tersendiri bagiku untuk mengungkapkan semua masalah yang aku alami.
Aku tidak menulis opini atau tulisan motivator atau nasehat
yang membangkitkan jiwa orang lain, bukan. Aku hanya menulis dengan caraku. Mewakili
perasaanku. Aku lebih suka membaca novel karya Tere Liye, Boy Candra, Fiersa
Besari, Asma Nadia, Habiburrahman el-Shirazi untuk mengasah bakat menulisku. Aku mempelajari
bagaimana cara mereka menuangkan perasaan mereka dalam novel-novel best
seller mereka. Singkat kata, mereka adalah inspirasiku untuk terus menulis.
Mataku berapi-api setiap kali aku membaca buku-buku mereka. Mereka hebat
bagiku.
Tapi sekarang semuanya hancur. Aku memang dihujat baperan,
suka galau, dan introvert yang suka bersembunyi di balik dinding. Tapi kata-kata hujatan mereka berlebihan bagiku. Walaupun dalam bentuk candaan. Tidak bisa diajak bercanda? Tolong bedakan antara candaan dan masalah kehidupan seseorang. Sesuatu yang berat bagi seseorang terkadang terlalu berlebihan jika dijadikan candaan.
Setiap kali aku memposting tulisan yang aku anggap sebagai karya bentuk dari hobby ku, setiap kali aku berbuat salah di depan teman-temanku, aku dihujat:
Setiap kali aku memposting tulisan yang aku anggap sebagai karya bentuk dari hobby ku, setiap kali aku berbuat salah di depan teman-temanku, aku dihujat:
“cie.. baper. jangan
galau terus, Ra”. Seolah kerjaanku hanya untuk menggalau seharian.
Hujatan yang paling menyakitkan bagiku adalah:
“kebanyakan baca bukunya Tere Liye, Boy Candra. Makanya baperan.”
Apakah baperku sangat menggangu bagi mereka? Lalu, jika memang iya, jangan
berteman dengan orang yang sepertiku. Silakan berteman dengan orang yang selalu
membaca buku self improvement, mungkin, agar kalian termotivasi dan tidak
tertular galauku jika memang aku sungguh megganggu.
Apa salahnya dengan membaca buku mereka? Setidaknya, hujat saja kelakukanku, tapi jangan karya mereka.
Hatiku hancur, bagiku ini hujatan yang paling perih yang pernah aku rasakan. Karena aku kehilangan minatku dalam menulis. Tanganku sulit untuk tegerak. Kepalaku kosong setiap kali aku berfikir tentang topik yang ingin aku tulis. Menulis kini asing bagiku. Hatiku masih memanas ketika aku menemukan buku-buku inspirasiku, tetapi tidak bisa tergerak untuk membaca mereka setiap kali aku teringat hujatan yang menyakitkan itu. Dan aku benar-benar kehilangan cara terapiku setiap aku dilanda masalah hidupku. Kini aku bingung bagaimana caraku mengungkapkan masalah yang aku derita.
Hatiku hancur, bagiku ini hujatan yang paling perih yang pernah aku rasakan. Karena aku kehilangan minatku dalam menulis. Tanganku sulit untuk tegerak. Kepalaku kosong setiap kali aku berfikir tentang topik yang ingin aku tulis. Menulis kini asing bagiku. Hatiku masih memanas ketika aku menemukan buku-buku inspirasiku, tetapi tidak bisa tergerak untuk membaca mereka setiap kali aku teringat hujatan yang menyakitkan itu. Dan aku benar-benar kehilangan cara terapiku setiap aku dilanda masalah hidupku. Kini aku bingung bagaimana caraku mengungkapkan masalah yang aku derita.
Aku sering bolak-balik Gramedia, membaca buku-buku yang ada
disana dengan harapan agar aku kembali termotivasi untuk bisa menulis. Tetapi nihil.
Aku berjalan menuju rak buku self improvement, memang banyak motivasi
yang aku dapatkan disana. Tetapi buku-buku motivasi itu tidak bisa membuatku
mengeluarkan perasaan-perasaan yang aku rasakan. Aku memaksa diriku untuk
membaca buku-buku self improvement agar mereka tidak lagi menghujatku. Tetapi
tetap saja, aku merasa kaku dan tidak menjadi diriku sendiri.
Sempat berkali-kali aku mencoba mengubah tulisanku dari
fiksi/non-fiksi menjadi dalam bentuk opini. Tetapi lagi-lagi aku merasa seperti
bukan diriku sendiri. Kini aku benar-benar merasa putus asa. Sungguh aku ingin
menulis kembali, mengeluarkan seluruh perasaan yang aku rasakan. Tetapi sudah
melakukan berbagai cara, aku belum bisa untuk memulainya kembali.
Aku berterima kasih kepada yang telah menjudge cara
hidupku dan caraku berfikir. Kini hidupku hilang arah berkat kalian. Tetapi kini
aku bisa belajar, bahwa aku hidup tidak untuk menyenangkan hati kalian. Aku hidup
dengan caraku untuk aku bisa menyelesaikan segala permasalahan hidupku dengan
caraku sendiri. Kisah hidup kita berbeda-beda, cara mengatasi masalah yang kita
punya juga tidaklah sama. Mulai sekarang aku akan hidup dan bersikap dengan
caraku sendiri. Meskipun sulit memang dengan hujatan-hujatan yang sangat
menjatuhkan, tetapi aku akan terus mencoba. Karena prinsip hidupku bukan untuk
membuat kalian kagum, apalagi untuk mengganggu hidup kalian, aku tidak punya
banyak waktu untuk mempertimbangkan kehidupan yang seperti itu.
Menurutku, kita harus belajar bagaimana caranya menghargai orang-orang
di sekeliling kita dan menerima perbedaan. Sebelum menghujat orang lain,
sebaiknya harus megetahui terlbih dulu apa permasalahan yang mereka hadapi. Belum tentu kita
sudah sangat benar dengan cara kita menjalani hidup.
Terkadang, dibalik hujatan yang dianggap sebagai candaan, ada yang sedang berjuang mati-matian untuk terus bertahan hidup dengan semua masalah yang ia hadapi. Dan kita juga tidak pernah tau siapa saja yang akan tersakiti dan hancur hidupnya dengan ucapan atau perbuatan kita.
Pernahkah kalian membayangkan seseorang yang kehilangan hidupnya karena hujatan kalian? Jujur, dibalik diamku ketika dihujat, aku pernah berfikir sebodoh itu, ingin mengakhiri hidupku hanya karena sebuah hujatan yang sangat menjatuhkan. Untunglah, aku memaksakan otakku untuk selalu berfikir rasional agar terhindar dari hal yang sangat bodoh itu.
Semoga, mulai sekarang kita bisa untuk lebih saling menghargai. Karena hidup kita, cerita kita dan permasalahan hidup kita, tidak sama.
Terkadang, dibalik hujatan yang dianggap sebagai candaan, ada yang sedang berjuang mati-matian untuk terus bertahan hidup dengan semua masalah yang ia hadapi. Dan kita juga tidak pernah tau siapa saja yang akan tersakiti dan hancur hidupnya dengan ucapan atau perbuatan kita.
Pernahkah kalian membayangkan seseorang yang kehilangan hidupnya karena hujatan kalian? Jujur, dibalik diamku ketika dihujat, aku pernah berfikir sebodoh itu, ingin mengakhiri hidupku hanya karena sebuah hujatan yang sangat menjatuhkan. Untunglah, aku memaksakan otakku untuk selalu berfikir rasional agar terhindar dari hal yang sangat bodoh itu.
Semoga, mulai sekarang kita bisa untuk lebih saling menghargai. Karena hidup kita, cerita kita dan permasalahan hidup kita, tidak sama.

Comments
Post a Comment