Gadis Berhati Biru
Seorang gadis periang kini mendadak menjadi murung.
Pipi yang selalu kemerahan oleh tawa, kini hanya pucat tanpa
ekspresi.
Mata yang dulu bersinar, hanya redup dan tanpa cahaya yang tersisa.
Sambil sesekali menghela nafas berat, bahkan hampir tidak bersuara.
Dingin. Itu yang ia rasakan.
Seolah keceriaannya telah diselimuti oleh lautan gunung es yang
sangat besar.
Dia tenggelam jauh ke dasar lautan es itu, tangannya tak mampu
menggapai dan dia mulai terperangkap di dalamnya.
Tidak ada yang mau menolong.
Suasana itu membekukan cahaya hidup dan seluruh perasaannya.
Perlahan, dunianya mulai berubah.
Tidak ada yang ingin mendekati manusia yang berhati dingin.
Dia semakin kedinginan menghadapi
perlakuan yang dia terima.
Dia semakin membenci dirinya sendiri, dan bongkahan es yang telah merenggut
cahaya hidupnya.
Tetapi, entah apa yang terjadi.
Semakin dia memberontak ingin
menghancurkan lautan gunung es itu, semakin
membeku pula seluruh perasaan dan hidupnya.
Hinggga dia lelah dan menyerah untuk membenci.
Dingin dan sunyi, hanya mampu memeluk dirinya sendiri.
Lalu dia memaksa diri untuk mencoba menerima keadaan, sebagai manusia
berhati dingin dengan gunungan es yang tidak akan pernah bisa ditaklukkan.
Menjalani hidup yang dingin dan gloomy adalah kebiasaan
barunya.
Setelah sekian lama,
Perlahan demi perlahan, dia mengubah gunungan itu menjadi istana es
yang biru.
Untuk pertama kalinya dia merasa tenang dan mencintai dunia birunya.
Akhirnya dia mampu berdamai dengan dirinya dan dunianya yang dingin
itu.
Dia tidak pernah marah, meskipun badai salju sesekali menerjang.
Menjengkelkan memang, tetapi sekarang dia bisa menikmati itu semua.
![]() |
| source : canva.com |
Kesunyian yang selama ini dia rasakan,
Memberikan rasa tenang sehingga dia mampu berfikir jernih.
Dan tidak pernah ada yang tau,
Bahkan tidak ada yang bisa menebak,
Bahwa dengan ketenangan tersebut,
Akhirnya dia kembali mendapati cahaya hidupnya yang selama ini
tersembunyi jauh di dasar lautan es yang telah menjadi tempat tinggal baginya.
Dia tertegun,
Lihatlah, bongkahan es yang besar ini tidak melenyapkan cahaya itu
sepenuhnya!
Iya, dia tersadar, ternyata selama ini cahaya itu hanya sedikit
redup dan membeku.
Untuk pertama kalinya,
Tetesan air mata yang hangat itu mencairkan belenggu es yang selama
ini membekukan cahaya hidupnya.
Lalu dia mendapatinya kembali, cahaya hidupnya.
Dengan sedikit cahaya yang hangat itu,
kini dia merasa nyaman dalam pelukan istana es yang telah dia
bangun.
Dengan cahaya yang hangat itu, dia mampu menciptakan salju.
Menghadirkan serpihan kristal salju yang amat sangat memukau.
Lihatlah kilau birunya yang ditimpa oleh hangatnya cahaya mentari.
Sungguh amat sangat menenangkan jiwanya sunyi yang selama ini ia
rasakan.
Sekarang, tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang orang-orang
yang telah pergi menjauhinya.
Dia menjadi pribadi yang lebih tenang, menghiraukan orang-orang
yang ingin menjatuhkannya.
Demi apapun, seolah serpihan kristal es yang berkilau itu kini
mengalir memenuhi jiwa dan raganya.
Dia kembali bisa tersenyum dan tertawa, meski dengan istana biru
yang dingin di hatinya.
Ibarat jiwa yang telah menyatu, dia tidak akan menyingkirkan istana
biru dingin yang telah menjadi tempat ternyaman baginya.
Dan dia yakin,
Perlahan, suatu saat nanti dia pasti akan menemukan cahayanya yang
lain.
Karena disanalah, segala kenyamanan dan ketenangan itu bermulai.

love this blog ❤️👍
ReplyDeletethank you ^^
Delete